Prom (inspired by Dancing Away With My Heart-Lady Antebellum)

31 Juli 2011
Hujan turun tanpa jeda sejak sore tadi, namun Vian sudah siap dengan segala persiapannya. Malam ini adalah malam perpisahan di bekas SMA-nya. Ia dan teman-teman sekelasnya di SMA dulu sudah berjanji untuk datang ke pesta prom itu dengan gaya khas anak SMA. Prom dimulai pukul 19.30 WIB malam itu. Vian sudah menitipkan pesan kepada Nesia, salah satu teman terdekatnya untuk datang menjemputnya sekitar pukul 19.00 WIB.
Saat itu, jam tangan Vian sudah menunjuk pukul 18.55, tapi tidak ada kabar sama sekali dari Nesia. Berulang kali Vian menekan tombol hijau di handphonenya untuk menghubungi Nesia, berulang kali pula nomor itu tidak bisa dihubungi. Malam itu ia menggunakan mini-dress yang siang tadi sudah ia pilih bersama Nesia dan Maria, tapi sekarang ia berfikir untuk kembali masuk ke kamarnya dan mengurungkan niatnya untuk menggunakan pakaian itu, karena ia malas mengenakan dress itu jika ia harus mengendarai motor.
Sesaat sebelum Vian masuk ke kamarnya, terdengar bunyi klakson dari depan pagar rumahnya. Hyundai Atoz berwarna biru metalik terparkir rapi didepan rumahnya. Vian keluar dan berdiri di teras rumahnya. Seorang pria melambai dari mobil itu, setelah melihat lebih teliti ia sadar ternyata Okta yang datang menjemputnya. Dalam hati ia bergumam ‘ini pasti kerjaan Nesia.’
Masuk kedalam rumah, mengambil tas tenteng dan mengenakan higheels-nya, Vian akhirnya keluar dan bersama dengan Okta mereka berangkat ke SMA mereka.
***
Parkiran mobil tampak sudah penuh, tapi untungnya mobil kecil itu masih memperoleh cukup tempat untuk parkir. Turun dari mobil dan harus berhadapan dengan genangan air membuat Vian benar-benar tidak nyaman dengan higheels yang ia gunakan saat itu.
‘ Susah ya? Nggak kaya biasanya sih, Vi.’
‘ Haha, udah janjian sama Nesia soalnya, Ta. Kalo nggak juga paling aku pake sneekers.’
‘ Iya sih, tapi bener-bener jadi keliatan beda. Dulu pas masih SMA aku cuma pernah liat kamu pake heels sekali, pas seventeen-nya Amel.’
‘ Times goes on, Ta. Dulu aku emang gitu, tapi sekarang kan emang udah beda.’ dan Okta hanya membalasnya dengan senyum.
Aula sudah penuh dengan anak-anak yang lulus tahun itu. Vian dan Okta hanya bisa menggapai hingga pintu masuk. Menoleh ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari teman-teman seangkatan mereka yang sudah berjanji akan datang malam itu. Setelah lama mencari, akhirnya ia bertemu dengan Agil. Teman yang paling suka bernyanyi saat SMA. Agil saat ini bekerja sebagai penyiar radio, dan suaranya memang benar-benar membuat pendegarnya merasa nyaman.
‘ Sama sapa aja ke sininya, Gil?’ Okta membuka percakapan disaat Vian masih celingukan mencari Nesia, Maria, atau teman-temannya yang lain.
‘ Tadi sebenernya sama Icha, terus sama Yunan juga, tapi gak tau sekarang mereka pada dimana.’
‘ Terus liat Nesia, Maria, Amel, Iga, atau yang lain, Gil?’ Vian ikut bertanya.
‘ Nggak belom liat, Vi. Ngapa gitu?’
‘ Aneh aja. Tadi siang tuh janjiannya yang mau jemput aku di rumah tu si Nesia sama Maria, tapi kok malah Okta yang dateng?’
‘ Haha.. kalo gitu, kenapa gak tanya sama aku aja, Vi?’ Tanya Okta sambil tertawa.
‘ Eh, iya ya? Kenapa aku gak kepikir nanya kamu aja, Ta? Bego, bego.’
‘ Haha.. terlalu fokus sama mereka mungkin. Tadi si Nesia bilang kalo dia gak bisa njeput kamu gara-gara mobilnya mendadak dipake Denis, adeknya. Nah, si Nesia jadinya dijemput Amel, terus mereka njemput Maria sama Iga juga.’
‘ Emang si Amel bawa mobil apa? Masa cuma ketambahan aku aja gak muat?’
‘ Dia make karimunnya. Mana muat kalo isi lima? Mau tah desek-desekan kaya ikan sarden? Padahal kalian kan mau ke prom? Makanya aku disuruh njemput kamu.’
‘ hehe.. iya, sih.’ Vian tak bisa mengelak lagi.
Lewat beberapa waktu Nesia, Maria, Amel, dan Iga datang. Mereka tampak sedikit gugup saat berhadapan dengan Vian, menjabarkan cerita yang sama dengan yang dijabarkan Okta. Tak lama Lius, Anto, Hendri, Sam, Adi, Indah, Dire, Ike, dan anak-anak penghuni kelas XII IPS 4 angkatan 2006 dari SMA itu sudah berkumpul di aula. Mereka sibuk berbincang tentang segala hal yang baru mereka hadapi, atau yang mereka alami selama masa SMA.
Seiring berjalannya acara, band-band dari sekolah itu tampil saling bergantian mengiringi perbincangan semua yang hadir diacara prom itu. Rasanya tak ada yang spesial bagi Vian malam itu. Ia hanya berdiri dipinggir dancing hall memperhatikan beberapa pasangan saling bergantian berlenggak-lenggok disana, dan:
‘ Mau ikutan, Vi?’ Okta mengagetkannya dari belakang.
‘ Apaan?’ Vian berusahan tetap calm.
‘ Dance lah, apa lagi? Abis ini kan lagu terakhir, masa ke prom cuma buat berdiri pake higheels sambil ngobrol terus ngemil? Mana sensasi prom-nya?’
‘ Nggak ah, gak bisa dance.’ Vian berbohong.
‘ Nggak usah bohong. Dulu juga yang ngajarin aku langkah-langkahnya kamu.’
‘ Eh? Iya tah?’ Vian mati kutu.
‘ Iya. Masa gak inget prom kita dulu? Sebelum prom kamu ngajarin aku dulu.’
‘ haha.. baiklah.’ Vian tak bisa menolak.
Sebuah lagu melantun lembut, dimainkan oleh band penutup malam itu. Kejadian itu, seperti apa yang pernah terjadi lima tahun lalu. Di bulan yang sama namun ditanggal yang berbeda, mereka berdansa di lantai itu, di aula.
‘ Ngerasa ada yang familiar nggak, Vi?’
‘ Jelas. Ini familiar banget.’ Vian menjawab.
‘ Udah lima tahun ya, Vi?’
Lima tahun telah mengubah segalanya. Kehidupan mereka sudah saling terpisah. Delapan tahun yang lalu mereka berkenalan sebagai rekan satu kelas, banyak meributkan hal-hal kecil, dan Okta selalu membutuhkan pertolongan Vian setiap pelajaran matematika dimulai.
Di tahun ke dua, mereka juga tetap sekelas. Okta sering main ke rumah Vian, terkadang datang untuk sekadar ngobrol dan minum teh. Okta sering mengajaknya pergi ke tempat-tempat baru, tak keberatan untuk menjemputnya dari rumah Maria dan mengantarnya kembali ke rumah. Mereka sering mengikuti kegiatan camping atau hal lainnya yang membuat mereka lebih mengenal satu sama lain.
Di tahun kedua, Okta selalu pergi bersama Vian, walau Vian sekedar pergi latihan ensambel di rumah Iga untuk perayaan hari kartini di SMA, Okta mau mengantar dan menunggu Vian latihan walau ia sendiri tidak melakukan apa-apa disana.
Di tahun ketiga, mereka bahkan menghabiskan lebih banyak waktu bersama, di mulai dari les dengan guru yang sama dan jam yang sama. Duduk sebangku untuk beberapa mata pelajaran, bahkan menghabiskan waktu di kantin bersama sambil melahap soto yang mereka pesan. Selalu bersama.
Lima tahun yang lalu, di acara yang sama: Prom Night, Okta datang kerumah Vian tepat pukul 19.00. Dengan mengendarai Hyundai Atoz berwarna biru metalik mereka bersama menuju sekolah, Vian membantu Okta mengenakan dasi, membenarkan kerah bajunya, bahkan sebelumnya mereka mencoba berdansa. Malam itu, Vian masih mengenakan flat shoes, sepatu paling feminin yang dapat ia gunakan saat itu, Okta sendiri belum terlalu mahir berdansa, namun malan ini, semua terasa familiar sekaligus berbeda.
Malam ini, Okta sudah mahir mengatur langkahnya, malam ini Vian sudah terbiasa mengenakan higheels, malam ini Okta sudah dapat mengenakan dasi, dan kerahnya pun sudah rapi. Malam ini, mereka berdiri ditengah ruangan yang sama seperti lima tahun lalu, berdansa disaat yang sama: di lagu penutup.
‘ Sejak kuliah udah lost contact.’ Vian menjawab.
‘ Iya, kita sok sibuk sih. Jadi sok gak kenal juga.’
Pandangan mereka saling beradu. Mereka diam. Seketika Vian memeluk Okta. Masih sambil terus berdansa, Vian merasa benar-benar merindukan masa-masa itu. Okta pun memeluknya erat.
‘ Aku kangen banget sama kamu, Ta.’ Vian terisak.
‘ Aku juga. Butuh lima tahun buat bikin kita inget kalo kita saling kangen.’
‘ Maafin aku ya? Aku sombong.’
‘ Aku juga kok. Gak ada yang perlu minta maaf atau dimaafin. Kita fair.’
Rasanya malam itu, Vian benar-benar tidak ingin melepaskan pelukannya. Pelukan sahabat dan kekasih yang selama tiga tahun selalu bersamanya. Sahabat dan kekasih yang selalu ada untuknya. Saat itu, ia ingin terus berada dalam pelukan itu, namun seketika music berhenti. Semua orang berhenti, dan dengan terpaksa Vian melepaskan pelukannya.
Saat ingin beranjak pergi, Okta terus mengenggam tangannya. Mereka terus bersama hingga semuanya selesai. Okta kembali mengantar Vian pulang. Mobilnya ia hentikan tepat didepan pagar rumah Vian, namun Okta meminta Vian tetap tinggal.
‘ Aku punya lagu untuk kamu. Bukan bener-bener buatanku, kamu tau aku gak bisa nyanyi, tapi tolong dengerin ini.’ Okta keluar dari mobilnya, membuka pintu belakang, mengambil sebuah gitar dan berdiri di depan jendela kiri, tepat Vian duduk. Okta mengetuknya, dan Vian menurunkan kaca jendela itu. Gitar mulai dipetik perlahan, suara khas Okta mulai terdengar:
‘I haven’t seen you in ages
Sometimes I find myself wondering ‘where you are?’
For me you’ll always be eighteen and beautiful
And dancing away with my heart
You headed off to college at the end of that summer
And we lost touch
I guess I didn’t realize even at the moment we lost so much
I haven’t seen you in ages
Sometimes I find myself wondering where you are
For me you’ll always be eighteen and beautiful
And dancing away with my heart’**
Setelah Okta selesai menyanyikan lagu itu, Vian membuka pintu mobil, menghembuskan nafas perlahan, menatap Okta dalam dan memeluknya.
‘ Makasih.’ Ucapnya sambil tetap memeluk Okta.
‘ Sama-sama. Aku pengen kita bisa gini terus, Vi. Waktu kuliah, kita masih sama-sama nyari sesuatu yang kita nggak tau, tapi di akhir semua itu aku tetep aja cuma inget kamu.’
‘ Maaf. Aku yang sok sibuk, aku yang sok nggak butuh kamu.’ Vian melepaskan pelukannya.
‘ Kita sama-sama salah. Mau mulai dari awal lagi?’ Okta bertanya lembut.
Vian mengangguk. Okta tersenyum.
Butuh waktu lima tahun bagi mereka untuk mengerti arti membutuhkan, menginginkan, dan menyayangi. Lima tahun mereka mencari sesuatu yang sebenarnya sudah selalu ada bersama mereka di tiga tahun sebelumnya.
** Dancing Away With My Heart- Lady Antebellum.